MERAIH MIMPI DAN MENEMBUS CAKRAWALA DUNIA

Bersama "ATLANTIS" mewujudkan harapan dan menggapai puncak tertinggi, selalu memandang ke atas tanpa melupakan dukungan dan dorongan dari orang-orang di sekitar.

SENYUM SAHABAT

Sebuah senyuman kecil mampu memberikan sebuah semangat yang luar biasa, senyuman sahabat untuk kita, mereka dan dunia

BERPUTAR DAN BERLARI

Kehidupan takkan pernah diam, selalu berputar dan berlalu menemukan sebuah hal dan tantangan baru yang menunggu untuk diselesaikan

HARAPAN DAN IMPIAN YANG INDAH

Menggapai sebuah harapan dan impian yang indah dengan kerja keras dan pantang menyerah untuk membuktikan akulah "SANG PEMENANG"

DUNIA UNTUK KITA SEMUA

Kehidupan di Bumi yang luar biasa

Tampilkan postingan dengan label RELIGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RELIGI. Tampilkan semua postingan

Meraih Harmoni dan Kesucian Hati



“Orang yang benar butuh permulaan yang benar, permulaan yang benar butuh keikhlasan dan keikhlasan itu ada pada niatan yang suci, sementara kesucian niat ada pada hati yang bersih.” (kalam hikmah)

IBARAT orang yang berazam ingin ke Surabaya, tentu ia hanya akan sampai ke tujuan kalau sedari awal ia naik bus jurusan Surabaya. Apapun kalau yang ia pilih adalah bus jurusan Jakarta, tentu sampai kapanpun ia tak akan sampai ke tujuan. Pohon mangga hanya akan tumbuh dari biji mangga, dan biji salak pastilah akan menumbuhkan pohon yang sama. Tidak akan mungkin pohon mangga membuahkan pohon salak, begitu pula sebaliknya.

Demikianlah saudaraku, sebuah kebenaran dalam bentuk apapun, hanya akan tumbuh dari biji kebenaran. Bagaimana mungkin pohon kebenaran bisa tumbuh berkembang dari sebuah biji bernama kesalahan.

Terus bagaimana “pohon” kebenaran ini bisa tumbuh dengan baik pada diri seseorang? Kalam hikmah diatas mengatakan; “butuh keikhlasan!”

Keikhlasan adalah saudara kembar kebenaran, keduanya lahir dari rahim yang sama, pada waktu yang bersamaan dimana ada kebenaran disitua ada keikhlasan, begitu pula sebaliknya. Antara keduanya tidak bisa dipisahkan oleh apapun dan siapapun. Kebenaran tanpa keikhlasan adalah fatamorgana, dan keikhlasan tanpa kebenaran adalah utopia bahkan tipu daya.

Keikhlasan adalah teman perjalanan kebenaran. Selamanya kita tidak pernah menjumpai kebenaran berjalan sendirian tanpa ditemani sang “kekasih” tercinta bernama keikhlasan.

Seandainya kita membiarkan kebenaran yang ada pada diri kita tumbuh sendirian, maka pastilah ia akan menjadi kebenaran yang kering bahkan mati, yang tidak bisa memberikan manfaat sedikitpun untuk kita bahkan keberadaannya akan menjadi beban berat, yang membuat perjalanan hidup ini semakin tertatih-tatih.

Tidak demikian halnya bila keihlasan ikut menyertai, kebenaran akan memancarkan “keceriaan” hakiki, yang dirasakan tidak hanya oleh siempunya kebenaran, tapi juga oleh orang-orang yang ada disekitarnya. 

Kebenaran akan berubah menjadi embun penyejuk yang akan menetes-basahi setiapa diri yang kerontang dalam keringnya jiwa.

Lantas, dari manakah kita akan memperoleh keikhlasan ini? Jawabnya adalah dari niat yang suci. Niat adalah kesengajaan melakukan amal, dan “suci” tiada lain adalah Allah, karena di alam semesta ini tidak ada yang “suci” dalam arti yang hakiki kecuali Dia Rabbul ‘Izati. Subahaanallah. Maha Suci Engkau ya Allah.

Niat suci akan dimiliki manakala kita menyengaja melakukan amal semata-mata karena ingin memperoleh ridha Allah Yang Maha Suci, lepas sama sekali dari tujuan dan harapan sesaat, yaitu kesengan duniawi.

Terus, di mana kita bisa menemukan kesucian niat ini?

Kesucian niat bisa kita temukan di sela-sela sebongkah daging bernama hati, dengan catatan jenis hati tersebut adalah hati yang betul-betul bersih dari berbagai kotoran.

Dari yang bersih akan tumbuh niat-niat yang suci lagi bersih, yang mendorong kita beramal dengan ikhlas semata-mata karena Allah. Saat keikhlasan ini bertemu dengan kebenaran, maka akan lahirlah sosok manusia baru dalam diri kita, yakni manusia yang seluruh lintasan pikiran, perasaan, keinginan, kata dan perbuatannya menyatu dalam satu senyawa, senyawa kebenaran.

Kalam hikmah diatas memberikan kesimpulan kepada kita, bahwa cita-cita menjadi orang yang benar itu harus diawali dengan memiliki hati yang bersih.

Cukupkah dengan hati yang bersih?

Tentu belum, gambaranya seperti ketika kita haus, kemudian ada orang yang memberikan sebuah gelas yang sangat bersih kepasda kita, akan tetapi didalam gelas bersih teersebut tak terdapat air bersih setetespun.

Apalah artinya gelas bersih tanpa isi bagi orang yang haus? Tetap saja ia kehausan.

Berarti kita harus mengisi “air” kedalam “gelas” hati kita ? Ya,air kehidupan, yaitu ilmu pengetahuan.

Hati bersih tanpa ilmu adalah gelas bersih tanpa isi. Tapi ilmu yang berada di hati yang kotor adalah air yang kita tuangkan ke dalam gelas kotor. Keduanya tidak bisa memberikan manfaaat sedikitpun di saat kita kehausan. Lantas, mana yang harus kita dahulukan ? membersihkan hati terlebih dahulu atau menigisinya? Ibarat gelas kotor yang ingin kita isi air, tentu kita harus membersihkannya terlebih dahulu baru setelah itu mengisinya dengan air.

Allah Ta’ala berfirman;

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mesucikan (hati) mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS: Al Jumu’ah: 2).

Semoga kita memperoleh hati bersih degan ilmu, layaknya gelas bersih dengan isinya.

Sumber : HIDAYATULLAH

Seni Memimpin Ala Rasulullah



Nabi Muhammad merupakan sosok pemimpin yang hingga hari ini diakuai dan dihormati banyak manusia. Bahkan kepempinan manusia sempurkan ini telah banyak diakui para peneliti Barat. Sebut saja Will Durant, Gustav Lebon, La Martin, Thomas Carlyle dan masih banyak yang lain.

La Martin yang setelah meneliti kehidupan Nabi menyatakan, “Muhammad adalah manusia di atas manusia dan di bawah Tuhan. Tak dapat diragukan bahwa ia adalah utusan Tuhan.”

Bahkan Thomas Carlyle, cendekiawan Inggris, mengritik orang Barat yang begitu saja meyakini kampanye buruk terhadap nama besar Muhammad. “Diantara aib terbesar yang ada hari ini ialah bahwa seorang cendekiawan menerima begitu saja ucapan seseorang yang mengatakan bahwa Islam adalah bohong dan Muhammad adalah penipu.”

“Pandangan yang kokoh, pemikiran-pemikiran yang lurus, kecerdasan, kecermatan, dan pengetahuannya akan kemaslahatan umum, merupakan bukti-bukti nyata kepandaiannya. Kebutahurufannya justru memberikan nilai positif yang sangat mengagumkan. Ia tidak pernah menukil pandangan orang lain, dan ia tak pernah memperoleh setetes pun informasi dari selain-Nya. Allah-lah yang telah mencurahkan pengetahuan dan hikmah kepada manusia agung ini. Sejak-sejak hari-hari pertamanya, ia sudah dikenal sebagai seorang pemuda yang cerdas, terpercaya dan jujur. Tak akan keluar dari mulutnya suatu ucapan kecuali memberikan manfaat dan hikmah yang amat luas,” katanya.

Sementara itu Gustav Lebon, cendekiawan Prancis, dalam bukunya “Peradaban Islam dan Arab”, menulis, “Jika kita ingin kita ingin mengukur kehebatan tokoh-tokoh besar dengan karya-karya dan hasil kerjanya, maka harus kita katakan bahwa diantara seluruh tokoh sejarah, Nabi Islam adalah manusia yang sangat agung dan ternama. Meskipun selama 20 tahun, penduduk Makkah memusuhi Nabi sedemikian kerasnya, dan tak pernah berhenti mengganggu dan menyakiti beliau, namun pada saat Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah), beliau menunjukkan puncak nilai kemanusiaan dan kepahlawanan dalam memperlakukan warga Makkah. Beliau hanya memerintahkan agar patung-patung di sekitar dan di dalam Ka’bah dibersihkan. Hal yang patut diperhatikan dalam kepribadian beliau ialah bahwa sebagaimana tidak pernah takut menghadapi kegagalan, ketika memperoleh kemenangan pun beliau tidak pernah menyombong dan tetap menunjukkan sikapnya yang lurus.”

Bahkan Allah Subhanahu Wata’ala sendiri secara langsung memuji dan mengatakan dalam Surah Al Ahzab ayat 21 yang artinya, “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik…” 


Sayangnya, kita lebih sosok Rasululah dari aspek ruhaniyaah dan spiritual belum menyentuh sosok beliau sebagai pengelola pemerintahan dan suatu negara hingga akhirnya beliau berhasil membangun bangunan negara  yang baldatun tayyibatun wa rabbun ghafuur. Surat Al Ahzab ayat 21 membuat kita kembali teringat betapa keteladanan beliau meliputi semua aspek kehidupan. Semua tindak tanduk dan tutur kata beliau merupakan teladan dan warisan yang teramat berharga.

Rahasia keteladan Nabi dalam memimpin tentu saja karena ditopang oleh empat sifat yang sudah tidak asing lagi: 

Pertama, shidiq yang artinya jujur. Kejujuran merupakan sikap utama dan harus mendapat tempat semestinya pada diri seorang pemimpin. Dan Nabi Muhammad SAW dikenal oleh masyarakatnya sebagai sosok yang jujur, jauh dari dusta. Kejujuran membawa kepada kebaikan, kebaikan dalam segala hal, utamanya dalam memimpin suatu bangsa dan masyarakat.

Kedua, amanah yang artinya mampu menjalankan kepercayaan yang diemban di pundak secara profesional tanpa mencederai kepercayaan yang sudah diberikan. Sikap amanah telah mengakar kuat pada diri Rasululah bahkan semenjak di usia belia. Tidak ada yang menyangsikan kejujuran seorang Muhammad kecil. Gelar amin (orang yang layak dipercaya) disandingkan di belakang nama beliau, Muhammad Al-Amin.


Ketiga, tabligh yang berarti menyampaikan kebenaran dan berani mengungkap kebatilan. Kepemimpinan beliau ditopang oleh sikap transaparansi, keterbukaan, dan selalu bersuara dengan tuntunan Ilahi. Tak ayal sikap terang-terangan beliau dalam mendakwahkan ajaran kebenaran dan memberangus kemunkaran mengundang murka pentolan-pentolan Kaum Quraish. 

Sebuah delegasi datang menemui paman Nabi, Abu Thalib, untuk memberi tawaran menggiurkan khusus untuk Nabi asal beliau menghentikan dakwahnya. Mereka, pentolan Qurasih ini dicekam rasa ketakutan bahwa kedudukan, kewibawaan, dan kekuasaannya akan tamat seiring laju perkembangan dakwah sang Nabi.


“Jika keponakanmu menginginkan kerajaan, kami siap mengangkatnya menjadi raja; jika menginginkan harta, kami siap mengumpulkan harta sehingga tidak ada yang terkaya kecuali Nabi; jika ia terkena gangguan jin, kami siap mencarikan obat untuk menyembuhkanya; asalkan ia berhenti mendakwahkan Islam,” demikian pernyataan tawaran itu.

Aspirasi delegasi Quraish disampikan oleh Abu Thalib kepada Nabi. Nabi menyampaikan sebuah pernyataan tegas sembari memberi ilustrasi indah yang memupuskan “mimpi” delegasi Quraish, “Demi Allah, jika mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan meninggalkan (dakwah) ini, sampai Allah memenangkannya atau aku hancur karenanya.”

Sifat Nabi berikutnya yang menjadi penopang kepemimpinan beliau adalah fathanah. Fathanah adalah cerdas. Kecerdasan atau berilmu mutlak dimiliki oleh seorang pemimpin. Pemimpin harus tahu bahwa setiap keputusan dan arahannya sesuai sasaran yang dituju. Karenanya, dalam berdialog, berdiskusi, menyampaikan ajaran Allah, beliau selalu mendasarkannya pada ilmu.

Tiga Nilai Moral

Empat penopang kepemimpinan Nabi di atas melahirkan nilai-nilai moral yang adiluhung. Pijakan moral sangat penting diunggah sebelum memutuskan suatu perkara. Dr. A. Ilyas Ismail dalam sebuah tulisannya  menyebutkan ada Tiga Sifat Moral yang harus ada pada diri seorang pemimpin, seperti yang telah diajarakan sendiri oleh Rasul. 

Sumber sifat moral itu merupakan intisari dari firman Allah Surah At-Taubah 128, “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”

Kata Ilyas Ismail, ayat tersebut mengandung tiga ajaran moral bagi seseorang dalam memimpin yaitu, memiliki sense of crisis, sense of achievement, dan kasih sayang.

sense of crisis merupakan penjabaran dari ayat di atas, “a`zizun a`laihi ma a`nittum.” Seorang pemimpin harus tahu apa yang dirasakan oleh rakyatnya. Rasa sakit seorang warganya menjadi rasa sakit bagi diri sosok pemimpin yang punya sifat empati. 

Kebahagiaan rakyatnya menjadi kebahagiaan bagi dirinya. Empati, bisa mengetahui keadaan masyarakat yang dipimpin menjadi idaman setiap penduduk di negeri ini. 

Akan tetapi, empati itu sering mampir pada momen tertentu: Pilkada, Pileg, Pilpres. Setelah semuanya berakhir, rakyat hanya terhibur oleh mimpi dan angan kosong belaka. Himpitan ekonomi, perut yang keroncongan, biaya sekolah yang melangit tak terjangkau, orang miskin yang “dilarang” sakit, menjadi pemandangan yang dengan mudah kita saksikan.

Suatu saat Sayidina Umar bin Khaththab pernah berujar yang ditujukan kepada semua orang yang diberi amanah sebuah jabatan, “Jika rakyatku kelaparan, Umar orang yang harus pertama kali merasakannya; jika rakyatku merasa kenyang, Umar orang yang harus terakhir merasakannya.” Sosok umar merupakan penerus sikap moral seorang pemimpin sejati, Nabi Muhammad.

Nabi Muhammad merupakan sosok pemimpin yang manakala ada bahaya mengancam atau segala hal yang tidak  nyaman, beliau siap pasang badan dan berdiri di garis terdepan. Misalnya, setiap kali peperangan beliau selalu maju lebih dulu ketimbang sahabat-sahabat yang lain.


Tetapi, bila ada kenikmatan beliau mendahulukan orang lain. Contohnya, suatu kali beliau diundang oleh salah seorang sahabat untuk makan bersama. Yang diundang hanya beliau seorang karena si pengundang melihat Nabi dalam keadaan sangat lapar. Namun Nabi mengajak sahabat-sahabat yang duduk bersama beliau.

Tiba di rumah pengundang, Nabi mempersilakan para sahabat makan terlebih dahulu. Satu per satu sahabat melahap hidangan yang tersaji. Setelah itu barulah beliau yang makan. Berkat mukjizat beliau, makanan yang seharusnya hanya cukup satu orang bisa mencukupi banyak perut orang lain.

Sementara sifat moral berikutnya adalah sense of achievement. Menurut Ilyas Ismail, sifat ini merupakan penjabaran dari bunyi ayat Allah dalam surat yang sama, “harisyun a`laikum.” Artinya seorang pemimpin dalam mengemban ide dan gagasan harus benar-benar bertujuan memajukan masyarakat dan warga negaranya.

Pemimpin yang harisyun a`laikum adalah pemimpin yang mendahulukan kepentingan orang banyak jauh mengalahkan kepentingan pribadi, partai, dan kelompoknya. Salah satu potret indahnya  ada pada seorang sahabat, sepupu sekaligus menantu Nabi, Imam Ali bin Abi Thalib.

Suatu hari, Aqil, saudara Ali, meminta harta lebih dari haknya karena anak-anaknya sedang menderita. Kata Ali, “Datanglah nanti malam, engkau akan kuberi sesuatu.” Malam itu Aqil datang. Lalu Ali berkata: “Hanya ini saja untukmu.” Aqil segera mengulurkan tangannya untuk menerima pemberian Ali. Tiba-tiba ia menjerit. Ternyata ia sedang memegang besi yang menyala. Dengan tenang Ali berkata, “Itu besi yang dibakar api dunia, bagaimana kelak aku dan engkau dibelenggu dengan rantai jahannam?”

Sayangnya, di negeri berharap adanya pemimpin berjiwa sense of achievement  belum menjelma menjadi sebuah kenyataan. Tengok saja kasus busung lapar, bunuh diri karena kemiskinan, memakan nasi aking, padahal negeri kita kaya akan sumber daya alam. Dalam UU pasal 34 disebutkan bahwa orang miskin dan anak-anak terlantar dipelihara negara. Mungkinkah hal itu terjadi karena bunyi pasalnya telah berubah menjadi “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran segelintir orang“?


Keberpihakan pada masyarakat dari pemimpin negeri ini laksana jauh panggang dari api. Sumber daya alam diekslploitasi sedemikian rupa, perusahaan-perusahaan menjadi tuan di negeri kita sementara kita menjadi pelayan di negeri sendiri. Akibatnya, angka kemiskinan merangkak naik, rakyat menjerit, sementara pejabatanya asyik dengan tingkah pola yang menjijikkan: biaya dinas yang dimanipulasi, korupsi yang merajai bumi pertiwi, arah pembangunan yang tidak jelas juntrungannya.

Ketiga, masih kata Ilyas, adalah pengasih dan penyayang yang merupakan penjabaran dari ra`ufun rahiim. Kasih sayang perlu dimiliki oleh semua orang, dalam hal ini, seorang pemimpin. Dengan kasih sayangnya, pemimpin mampu bersimpati dan memberikan empati, dan mengulurkan tangan.

Dengan kasih sayang, seorang pemimpin akan berkeliling untuk melihat satu per satu keadaan rakyatnya. Adakah di antara mereka yang kekurangan gizi, sakit tapi tak mampu berobat, terlilit hutan yang tak sanggup dibayar, sehingga pemimpin itu menjadi orang pertama yang selalu merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya.

Seorang pemimpin hendaknya menjadi pengembala yang melayani rakyatnya untuk mencapai tujuan mereka dan memenuhi kebutuhannya. Dia harus bisa melayani bukan minta dilayani. Mari kita simak kata-kata seorang penyair tentang junjungan kita, Nabi Muhammad SAW :

“Jika engkau menyayang, maka engkau (laksana) ibu dan ayah.” 

Dengan melihat sejarah dan cacatan masa lalu Nabiullah Muhammad, pempin seperti SBY tentunya tidak perlu memasang iklan besar-besar di pelbagai media untuk meningkatkan elaktibilitas, popularitas, dan memperbaiki citranya yang belakangan sangat terpuruk karena hantaman kasus korupsi di tubuh partai yang telah mengantarkannya menjadi RI 1 dua kali berturut-turut. Cukuplah beliau meneladani ajaran moral Nabi dalam memimpin, rakyat dan kita semua akan mencintai dan mendukungnya. Akankah sejarah berulang dengan SBY bertindak layaknya Umar bin Khathtab, Ali bin Abi Thalib, atau pemimpin yang malah tumbang di tangan rakyatnya sendiri? Sejarah akan menjawab.


Keteladanan Rasulullah Muhammad menjadi referensi yang sejalan dengan ruang dan waktu, dimanapun seseorang berada pada sebuah zaman. Uswah, keteladanan beliau adalah sebuah jalan yang terang, bersih dari dusta, pengkhianatan, kebodohan, jauh dari sikap hiprokit. Siapa saja yang memimpin suatu negeri tanpa bersendikan teladan nabi, pasti jauh dari kebaikan dan kesejahteraan.

Sumber : HIDAYATULLAH

Kenali Cara Allah SWT Mewujudkan Harapan Kita



Hidup manusia bisa diibaratkan sebatang rokok. Api rokok adalah semangat yang membutuhkan waktu untuk membakar batang rokok. Abu rokok adalah kegagalan yang jatuh ke bawah dalam upaya mengeluarkan asap rokok yang membumbung tinggi ibarat sebuah cita-cita. Begitulah manusia hidup, butuh waktu, punya semangat, dan kadangkala mengalami kegagalan dalam menggapai cita-citanya. Tidak ada kesuksesan hidup yang digapai secara instan.

Untuk menggapai cita-cita, tujuan, atau harapan dalam hidupnya manusia senantiasa berusaha (ikhtiar). Agar usahanya terasa maksimal, dibuatlah berbagai program, target, atau langkah-langkah yang ditempuh. Namun kenyataan hidup mengajarkan, apa yang dilakukan kadangkala tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Usaha tidak sebanding dengan hasil yang diinginkan. Rencana dan target kehidupan, hasilnya jauh diluar perkiraan. Inilah yang kita sebut dengan satu kata: kegagalan!

Memaknai Kegagalan

Kegagalan adalah bukti bahwa manusia memiliki keterbatasan dan kelemahan. Manusia hanya wajib berusaha tetapi tidak wajib untuk berhasil. Manusia boleh berencana, namun garis (takdir) kehidupan telah punya rencananya sendiri. Di sini, kegagalan dalam hidup mengajarkan satu hal kepada kita, bahwa kita manusia adalah makhluk yang jauh dari kesempurnaan. Yang sempurna hanyalah pemilik diri dan jiwa manusia, dialah Allah SWT.

Di saat kegagalan sebagai akhir dari usaha yang didapatkan, suasana yang menyelimuti diri adalah resah, kecewa, bahkan putus asa. Kondisi saat itu memerlukan tempat kita bersandar, nasihat yang memotivasi, dan kekuatan untuk bangkit kembali. Sehingga harapan-harapan baru muncul sebagai pemantik potensi yang kembali melahirkan aksi. Disinilah rekonstruksi visi sangat penting sekali. Visi hidup, terutama sebagai Muslim sejati, tidak terbatas di dunia ini tapi jauh menembus kehidupan ukhrawi.

Jika keyakinan adanya kehidupan lain setelah kehidupan di dunia ini terpatri, sungguh tidak akan ada ruang bagi kita untuk berhenti berharap atau berputus asa. Karena pergantian waktu senantisa memberi nasihat, bahwa harapan masih ada jika nafas dan kesadaran masih ada. Berhenti berharap, larut dalam alunan keputus-asaan, adalah sebuah dosa dan bentuk mentalitas kekufuran (QS. Yusuf: 87).

Padahal janji Allah SWT terhadap insan yang senantiasa menjaga harapan telah dinyatakan. Allah SWT berfirman : 

“Berharaplah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan harapanmu sekalian.” (QS. Almukmin: 60). Allah SWT akan mengabulkan harapan bagi siapa saja yang berharap hanya kepada-Nya (QS. Al Baqarah: 186).


Cara Allah SWT mewujudkan harapan

Persoalannya, yang sering alfa dalam pengetahuan sebagian orang adalah, bagaimana Allah SWT memperkenan atau mewujudkan harapan-harapan itu? Pemahaman terhadap jawaban pertanyaan ini penting, agar terhindar dari prasangka buruk (su’uzzhan) terhadap diri apatah lagi terhadap Allah SWT.

Dalam hadits riwayat Ahmad dan al-Hakim dari Abu Sa’id dijelaskan oleh Rasulullah SAW tiga cara Allah SWT mengabulkan setiap harapan atau do’a hamba-Nya. Dengan catatan, seorang hamba tersebut tidak memutuskan hubungan silaturrahim dan melakukan dosa besar. Cara Allah SWT mengabulkan harapan (do’a) tersebut adalah :

Pertama, harapan itu langsung dikabulkan atau dalam waktu yang tidak berapa lama. Di antara golongan manusia yang mendapat prioritas cepatnya terkabul harapannya, sesuai dengan beberapa penjelasan hadits Rasulullah SAW yaitu orangtua, orang yang teraniaya, pemimpin yang adil, juga harapan kebaikan dari seseorang kepada orang lain yang jauh dari dirinya. Rasulullah SAW bersabda:"Tidaklah seorang Muslim mendo’akan saudaranya yang tidak berada dihadapannya, melainkan malaikat akan berkata: ‘Dan engkau juga mendapatkan yang seperti itu." (HR. Muslim).


Kedua, harapan itu ditunda di dunia dan menjadi tabungan pahala yang akan diterima di akhirat nanti. Seringkali misalnya, keadilan di dunia sulit didapatkan, namun percayalah keadilan akhirat pasti ada. Pengadilan akhirat tidak pernah pandang bulu bahkan menerima sogokan dalam memvonis kasus kehidupan di dunia. Kesadaran ini seharusnya memupuk optimis atau harapan dalam hidup. Sebab, senantiasa berharap (raja’) atas nikmat dan ridho dari Allah SWT merupakan akhlak yang terpuji yang mampu memupuk keimanan dan  mendekatkan diri seorang hamba kepada-Nya. Hasil kebaikan ini senantiasa akan mendapatkan balasannya. Tidak di dunia, di akhirat pasti.

Ketiga, dijauhkan dari keburukan yang sebanding dengan harapan itu. Dengan kata lain, Allah SWT mengabulkan harapan dengan mengganti sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan, yaitu terhindar dari musibah yang seharusnya menimpa kita. Atau mengganti harapan itu dengan sesuatu yang tidak pernah kita harapkan. Mengapa? Karena Allah SWT lebih tahu apa yang terbaik bagi kehidupan hamba-Nya (QS. Al Baqarah: 216). Sebab, Dia-lah zat yang menguasai yang awal, yang akhir, yang zahir, yang bathin, dan Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al Hadid: 3).

Rencana Allah SWT lebih hebat

Apa yang diharapkan oleh seorang hamba boleh jadi hal itu sesuatu yang buruk baginya. Sebaliknya, apa yang tidak diharapkan boleh jadi itulah yang terbaik untuk kita.

Perhatikanlah firman Allah SWT yang mulia ini.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ


“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. (Mengapa?) Allah maha mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”(QS. Albaqarah: 216).

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa, rencana Allah SWT terhadap diri kita lebih hebat dari rencana yang kita buat. Oleh sebab itu, logis jika kita dilarang berhenti berharap karena hal itu tidak akan mendatangkan kebaikan apapun.

Ada di antara kita, bahkan boleh jadi kita pernah melakukannya. Mengeluh dan dengan tega  mengatakan: “Saya tidak memiliki apa-apa dan siapa-siapa lagi dalam hidup ini”.

Padahal, bumi masih gratis untuk kita pijak. Langit tidak dibayar memayungi kita. Oksigen masih tersedia untuk nafas kita. Angin masih kita rasakan hembusannya. Waktu masih tersisa untuk berkarya. Raga masih ada bukti kita nyata. Lalu, pantaskah kita mendustakan nikmat Allah SWT tanpa ada alasan? Allah SWT berulang kali mempertanyakan persoalan ini agar kita senantiasa bersyukur dan berpikir (perhatikan QS. Ar Rahman).

Segalanya Indah

Akhirnya, kehidupan yang kita lalui akan senantiasa bermuara kepada dua hal, yakni bahagia dan kecewa. Begitulah kodrat perasaan manusia. Namun rasa bahagia dan kecewa bisa menjerumuskan manusia ke dalam kubang kemaksiatan bila hal itu tidak disikapi dengan bijak. Karenanya, seorang Muslim harus mampu menjaga keadaan dirinya dalam kondisi apapun untuk senantiasa menumbuhkan ladang kebaikan dan pahala. Caranya, senantiasa berdzikir dengan menjadikan sabar dan shalat sebagai perantara untuk menghadirkan pertolongan Allah SWT (QS. Albaqarah: 153).

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda: "Sungguh menakjubkan perkara orang-orang mukmin. Karena segala urusannya merupakan kebaikan. Ketika mendapat nikmat ia bersyukur, karena bersyukur itu baik baginya. Ketika mendapatkan musibah ia bersabar, karena sabar itu juga baik bagi dirinya." 

Dengan kata lain, perkara apapun bagi seorang mukmin sejati, seluruhnya  menjadi indah di hati. Semoga Allah SWT membantu kita merealisasikannya dalam kehidupan ini. Insya Allah! Wallaahu a’lam.

Sumber : HIDAYATULLAH

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More