UNESCO menyatakan dari 5 situs ini, situs yang berada di
Mali dianggap kondisinya paling riskan.
UNESCO baru-baru ini mengumumkan daftar lima situs dunia
dalam bahaya atau memprihatinkan. Aksi perusakan dan penjarahan menjadi
"penyakit' yang kerap terjadi. Tapi, kondisi ini sulit dicegah dan sering
luput dari perhatian.
Daftar ini dibuat sebagai peringatan awal dan kekhawatiran
akan kondisi terkini dari situs-situs tersebut. "Daftar Situs dalam Bahaya
merupakan usaha untuk menarik perhatian terhadap masalah yang dialami situs
tertentu untuk meningkatkan manajemen mereka," kata juru bicara UNESCO
Roni Amelan.
Demi memberikan perhatian terhadap kondisi situs, seringkali
bantuan internasional dan berbagai ahli dilibatkan. Diharapakan adanya sebuah
upaya pelestarian terhadap keberadaan situs-situs tersebut. Berikut adalah
Daftar 5 Situs Warisan Dunia dalam Bahaya versi UNESCO:
1. Masjid Djinguereber Timbuktu, Mali
Situs ini dibangun pada akhir abad ke-5 sebagai desa dengan
pasar yang sederhana. Namun, Timbuktu berubah menjadi pusat intektual dan
spiritual yang penting di bawah dinasti Askia hingga menjelang akhir abad
ke-15. Sekarang, muncul keprihatinan internasional terhadap penjarahan dan
pengrusakan yang sering terjadi pada situs bersejarah ini.
Insiden terakhir terjadi ketika kelompok bersenjata MLNA dan
Ansar Dine melakukan perusakan dan penjarahan terhadap situs ini. Bulan Juni
lalu, Direktur Jenderal UNESCO Irina Bokova mengungkapkan kekecewaannya atas
laporan yang menyatakan bahwa tiga kuburan suci di Timbuktu telah
dihancurkan.
"Tidak ada pembenaran untuk kehancuran tersebut. Saya
meminta pada semua pihak yang terlibat konflik untuk segera menghentikan
tindakan yang mengerikan itu," kata Bokova.
2. Gereja Bethlehem, Palestina
Gereja Bethlehem, yang dipercaya umat Kristen sebagai tempat
kelahiran Yesus Kristus, baru saja dinobatkan UNESCO masuk kedalam Daftar
Warisan Dunia. Namun, di waktu yang sama pula Gereja Bethlehem masuk dalam
Daftar Warisan Budaya Dunia dalam Bahaya pada tahun ini karena kekhawatiran
akan kebocoran air yang terjadi.
Gereja Bethlehem masuk menjadi situs Warisan Dunia pertama
bagi Palestina setelah tahun lalu mendapatkan keanggotan penuh dari UNESCO.
Namun, masuknya Bethlehem sebagai warisan dunia masih sedikit kontroversial,
mengingat Israel dan Amerika Serikat masih menentang keanggotannya.
3. Liverpool Maritime Mercantile, Inggris
Liverpool menjadi salah satu pusat utama perdagangan dunia
di abad 18 dan 19 dan memainkan peran penting dalam pertumbuhan dari Kerajaan
Inggris. Inilah yang membuat Liverpool Maritime Mercantile City masuk dalam
Situs Warisan Dunia pada tahun 2004.
Tapi adanya usulan pembangunan Liverpool Waters mengancam
cakrawala dan profil dari Liverpool Maritime Mercantile City. Inilah yang
membuat situs tersebut masuk dalam daftar lokasi Situs Warisan Dunia dalam
Kondisi Bahaya.
4. Portobelo, Panama
Benteng Kolonial di Portobelo dan San Lorenzo pernah menjadi
salah satu contoh terbaik arsitekur militer Panama pada abad 17 dan abad 18.
Menjadikannya masuk sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 1980.
Ironisnya, benteng ini terlihat hanya dari gambar reruntuhan
dan meriam berkarat. Menunjukkan pertanda jelas bahwa situs ini telah
dilalaikan. Komite Warisan Dunia meminta Panama untuk melakukan peninjauan dan
melakukan renovasi terhadap situs benteng kolonial bersejarah ini.
5. Makam Askia, Mali
Makam ini dibangun pada tahun 1485 yang digunakan untuk
pemakaman Toure, yaitu raja kuno dari Kekaisaran Songhai. Ini merupakan situs
kedua dari Mali yang masuk kedalam Daftar Situs Warisan Dunia dalam Bahaya.
Kelompok bersenjata yang saat ini menduduki komplek pemakaman ini dikhawatirkan
akan melakukan aksi perusakan.
UNESCO menyatakan dari lima Situs Warisan Dunia dalam Bahaya
yang dirilis tahun ini, situs yang berada di Mali dianggap dalam kondisi paling
ringkih.
Negara yang terletak di Afrika Barat ini sedang mengalami
konflik. Persatuan Bangsa-banga (PBB) sampai turun tangan dengan berusaha
membantu warga negara Mali meninggalkan rumah mereka akibat pertempuran di
bagian utara negeri itu.
"Peristiwa yang terjadi di Mali bertentangan dengan
semangat kerja yang dilakukan oleh UNESCO dan oleh Komite Warisan Dunia,"
kata Amelan.



0 komentar:
Posting Komentar