Memasak dengan cara tradisional menggunakan kayu bakar lazim
ditemui di Indonesia. Menggunakan kayu, api, dan corong bambu, memasak dengan
cara ini dilakukan secara turun-temurun. Biasanya dilakukan di dapur
tradisional. Tak ada tembok permanen atau pun lapisan semen di lantai. Hanya
berupa tanah yang rajin dijaga kebersihannya.
Namun, cara memasak seperti ini ternyata mengundang bahaya
kesehatan serius bagi pelakunya. Asap pembakaran yang tidak sempurna dari kayu
bisa menyebabkan kanker paru-paru, kebutaan, jantung, bahkan pengaruh kognitif
pada anak.
Anak disebut juga menjadi korban karena biasanya mereka
diajak oleh si ibu ketika memasak. Demikian disampaikan Kirk R. Smith, Direktur
Kesehatan Global dan Program Lingkungan Kesehatan Masyarakat, University of
California, Berkeley, Amerika Serikat.
Dikatakan Smith, bukan kayu sebagai penyebab utama masalah
kesehatan ini. Melainkan pembakarannya yang tidak sempurna. "Memang
kelihatannya masalah alami. Tapi banyak masalah disebabkan oleh hal alami.
Malaria, gempa, gunung api, semua masalah alami," kata Smith dalam kuliah
umum di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Depok,
Kamis (31/5).
Asap yang melayang di sekitar si ibu dan anak, dikatakan
Smith, sama dengan bahaya rokok. Malah, risiko kesehatannya lebih besar karena
jumlah asap yang dihasilkan lebih besar dan menguap ke ruangan yang menaungi
mereka.
"Senyawa rokok dan asap rumah tangga ini hampir sama.
Asap dari rumah tangga sama ibaratnya dengan membakar seribu rokok di dapur
mereka tiap jamnya," tambah Smith.
Penggunaan kayu sebagai bahan bakar dapur di Indonesia
mencapai 40 persen, dengan mayoritas di Pulau Jawa. Jumlah ini nyaris menyamai
jumlah di India yang mencapai 50 persen. Sebagai data betapa berbahayanya ini,
jumlah partikel akibat polusi rumah tangga di India sepuluh kali lebih tinggi
dari standar kesehatan WHO. "Polusi rumah tangga membunuh dua juta manusia
tiap tahunnya," tambah Smith lagi.
Sayangnya, belum ada solusi untuk masyarakat Indonesia yang
sudah biasa menggunakan kayu bakar karena alasan ekonomi. Mengingat bahan bakar
lain seperti minyak tanah sudah tidak lagi disubsidi Pemerintah. Gas elpiji pun
belum merata penyebarannya di Indonesia.
Meski demikian, dikatakan Budi Haryanto sebagai Ketua
Departemen Kesehatan Lingkungan FKM UI, masyarakat di pedalaman Tanah Air harus
mengerti bahaya yang mengancam dari asap ini. Asap, baik dari rumah
tangga mau pun dari kebakaran hutan, menjadi masalah lingkungan besar bagi
Indonesia.



0 komentar:
Posting Komentar