Astronom mempelajari bintang tipe O, bintang bermassa besar
yang sangat panas (temperatur permukaan 30.000 derajat Celsius), terang,
mengalami hidup yang keras dan pendek namun berperan dalam evolusi galaksi.
Observasi dengan Very Large Telescope milik European Southern Observatory di
Chile mengungkap bahwa 70 persen dari bintang massif tersebut ternyata memiliki
pasangan, menyusun apa yang disebut dengan bintang biner (dua bintang saling
mengorbit).
Telaah yang dilakukan oleh Selma de Mink dari Space Telescope Science Institute
di Baltimore, Amerika Serikat, juga menunjukkan bahwa bintang biner tersebut
memiliki hubungan yang penuh gejolak.
Dalam banyak kasus, salah satu pasangan bintang itu bertindak sebagai bintang
vampir yang kejam, menghisap material bintang pasangannya. Di kasus lain,
karena jarak yang dekat, kedua bintang merger menjadi satu bintang besar.
Bintang vampir akan menghisap hidrogen 'segar' yang bisa membuatnya lebih besar
dan hidup lebih lama dari bintang tunggal biasa. Sementara pasangannya akan
merana serta kehabisan materi, intinya saja yang tersisa, membuatnya tampak bak
bintang muda.
Seperti diberitakan Space, Jumat (27/7/2012), bintang tipe O yang menyusun 1
persen dari populasi bintang semesta memiliki peranan besar dalam evolusi
galaksi. Saat mati meledak, bintang ini menghasilkan elemen berat, memperkaya
elemen di semesta.
Dengan adanya pasangan yang dimiliki, hal yang terjadi mungkin berbeda. Dan,
mungkin perbedaan itu akan memengaruhi bintang tipe O berdampak pada evolusi
galaksi, membuat astronom salah menginterpretasikan informasi tentang galaksi
atau bintang.
"Studi ini menunjukkan bahwa seringnya asumsi bahwa sebagian besar bintang
adalah single bisa menjerumuskan ke kesimpulan yang salah," kata Hugues
Sana dari University of Amsterdam yang juga terlibat studi ini.
Sumber : KOMPAS



0 komentar:
Posting Komentar